KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.2
Refleksi Naratif
Momen yang
paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya dalam proses
pembelajaran Modul 1.1 hingga Modul 1.2 adalah;
Pertama, pada Modul 1.1., kekuatan sosio-kultural menjadi proses
‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Pendidikan bertujuan
untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar
agar dapat memperbaiki laku-nya untuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi anak
bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa. Kedua,
KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai
dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Artinya, cara belajar dan interaksi
murid Abad ke-21, tentu sangat berbeda dengan para murid di pertengahan dan
akhir abad ke-20. Kodrat alam Indonesia dengan memiliki 2 musim (musim hujan
dan musim kemarau) serta bentangan alam mulai dari pesisir pantai hingga
pegunungan memiliki keberagaman dalam memaknai dan menghayati hidup. Demikian
pula dengan zaman yang terus berkembang dinamis mempengaruhi cara pendidik
menuntun para murid. Ketiga, dalam
modul 1.2, terkait dengan nilai-nilai guru penggerak: (berpihak pada murid, reflektif, mandiri,
kolaboratif, serta inovatif dan peran GP (Menjadi Pemimpin Pembelajaran, Menjadi Coach Bagi Guru Lain, Mendorong
kolaborasi, Mewujudkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) Menggerakkan
Komunitas Praktisi. Keempat, dalam
modul 1.2, manusia merdeka: Berdaya dalam Memilih (Teori Pilihan) yakni Ki
Hadjar Dewantara pernah mengingatkan pada kita tentang konsep manusia merdeka,
yaitu: mereka tidak terperintah, mereka dapat menegakkan dirinya, tertib
mengatur perikehidupannya, sekaligus tertib mengatur perhubungan mereka dengan
kemerdekaan orang lain. Dengan begitu, pendidikan seyogyanya adalah upaya sadar
untuk menumbuhkan manusia-manusia yang merdeka. Kelima, dalam modul 1.2, Wiiliam Glaser, mengemukakan agar menghindari
7-kebiasaan buruk yang secara eksternal “mengganggu” relasi dengan orang lain:
mengkritik, menyalahkan, mengeluh, menjengkelkan, mengancam, menghukum, menyuap
(memberi reward) untuk mengendalikan orang lain; serta menjalankan 7-kebiasaan
mempedulikan orang lain: mendukung, mendorong, mendengarkan, menerima,
mempercayai, menghormati, dan menegosiasikan perbedaan;menghindari membuat
dalih dan alasan karena menghalangi kita membangun relasi; bersabar. Keenam, tentang berpikir cepat dan
berpikir lambat. Jadi, di sini perlu diingat bahwa secara alamiah kita
mempunyai kecenderungan untuk mengkonservasi energi. Insting kita akan lebih
cepat bereaksi dan mengklasifikasikan sesuatu sebagai ancaman, ketimbang harus
menganalisanya terlebih dahulu apakah benar itu adalah ancaman. Kabar baiknya,
otak manusia memiliki kemampuan untuk belajar. Tidak statis tapi elastis.
Dengan demikian, penggunaan system berpikir lambat, penggunaan otak luhur
(manusia) dapat kita pelajari agar tidak begitu saja memperkenankan sistem
berpikir cepat (otak Reptil dan Mamalia) mengambil alih kendali diri kita.
Kaitan antara
Modul 1.1 dan 1.2 yang saya fahami adalah: Pertama,
dalam Modul 1.1. tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar
Dewantara ditegaskan bahwaPendidikan
menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan
dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir).
Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadi cakap mengatur
hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain. Hal ini memiliki keterkaitan
konkrit dengan nilai Guru Penggerak yang berpihak pada murid sebagaimana
dideskripsikan dalam Modul 1.2 tentang Nilai dan peran Guru penggerak. Nilai berpihak
pada murid ini mensyaratkan Guru Penggerak untuk selalu bergerak dengan
mengutamakan kepentingan murid. Guru Penggerak yang memiliki nilai ini, akan
selalu berpikir mengenai pertanyaan utama yang mendahulukan muridnya, seperti:
“apa yang murid butuhkan?” Kedua: Dalam Modul 1.1 secara umum mendeskripsikan
filosofi pemikiran KHD ttg pendidikan, sedangkan pada modul 1,2 lebih menukik
pada konkretisasi pemikiran KHD bagi guru yang termuat dalam peran GP, nilai GP
dan profil pelajar pancasila. Ketiga,
dalam modul 1,1. berbicara tentang filosofi KHD dalam hubungan dengan kesejatian nilai
pendidikan dan pada modul 1.2 terdapat semacam perbandingan untuk menjadi
affirmasi pemikiran KHD dari perpektif psikologi pendidikan sebagaimana
digambarkan dalam teori gunung es, teori pilihan William Glaser tentang Perumpamaan
Otak 3-in-1 (Triune) Manusia Menggunakan Tangan, tentang Model Kompetensi Kepemimpinan Sekolah
tentang Manusia Merdeka: Berdaya dalam Memilih (Teori Pilihan) dan tentang Tahap perkembangan psikososial
Erik Erikson. Intinya secara holistic,
kaitan antara modul 1 dan 2 adalah soal konsep dan implementasi. Modul 1.1
merupakan konsep filosofis KHD ttg pendidikan sedangankan modul 1.2 lebih
mengarah pada konkretisasi konsep yang juga disandingkan dengan teori psikologi
pendidikan.
Perasaan saya
Terhadap Momen yang paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya
dalam proses pembelajaran Modul 1.1 hingga Modul 1.2 dapat saya deskripsikan
yakni: Saat momen itu terjadi saya
merasa seperti baru bangun dari tidur berkepanjangan. Artinya, sejak awal
berpikir menjadi guru selain sebagai profesi juga untuk sebuah pekerjaan agar
bisa survive. Tetapi setelah membaca modul 1.1 dan modul 1.2 serta menonton
video tentang pendidikan lengkap dengan metafora yang menebalkan pemahaman, maka ada semacam kesadaran yang muncul begitu
tegas, bahwa inilah yang harus saya lakukan sebagai guru yang professional.
Rasanya tidak mudah memang, tetapi ikthiar yang berlangsung terus-menerus tentu
akan menjadi sebuah kebiasaan baik dan bermanfaat terutama bagi siswa, bagi
rekan guru dan pada akhirnya bagi institusi sekolah.
Pembelajaran
penting untuk saya dalam tugas pokok sebagai guru yakni bahwa Sebelum
momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa menjadi guru dengan rutinitas
sehari-hari, pagi masuk sekolah, masuk kelas, mengajar sesuai materi kurikulum,
melaksanakan tes, ujian mid semester, dan ujian semester, hingga pembagian
raport. Setelah itu selesai, dan secara siklis, kemudian kembali lagi ke rutinitas
awal. Sekarang saya berpikir bahwa itu tidak cukup. Rutinitas itu ternyata
belum membuat saya menjadi guru sejati dalam kompetensi yang sesungguhnya
terutama berhubungan dengan peran saya sebagai guru penggerak, penghayatan saya
terhadap nilai-nilai guru penggerak dan pencapaian saya akan siswa yang
memiliki profil pelajara pancasila.
Sebagai
penerapan dan rencana saya ke depan, pengembangan diri yang sederhana, konkret dan
rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan
nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak adalah memberdayakan Nilai Reflektif. Nilai
Reflektif layaknya adalah model mental yang diharapkan menubuh pada Guru
Penggerak dimana mereka senantiasa memaknai pengalaman yang terjadi di
sekelilingnya, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun pihak lain secara
positif-apresiatif-produktif. Dengan mengamalkan nilai reflektif, Guru
Penggerak memanfaatkan pengalaman-pengalaman tersebut sebagai pembelajaran
untuk menuntun dirinya, murid, dan sesama dalam menangkap pembelajaran positif,
sehingga mampu menjalankan perannya dari waktu ke waktu. Kegiatan yang saya
lakukan adalah: kebiasan menyusun refleksi tertulis pada setiap akhir bulan
dengan mengikuti alur atau panduan berikut: Peristiwa (Facts): paparan objektif
berdasarkan pengalaman nyata atas apa yang sejauh ini telah dialami; Perasaan
(Feelings): apa yang dirasakan kini setelah mengikuti proses tersebut; Pembelajaran
(Findings): apa hal paling konkrit yang dapat diambil sebagai pembelajaran dan
mungkin telah membawa makna baru; Penerapan ke depan (Future): apa hal yang
dapat segera diterapkan baik sebagai individu.
Saya meyakini bahwa ketika saya menulis refleksi
di akhir bulan tetntang hal positif,dan hal negative, kegagalam dan
keberhasilan dam pembelajara di sekolha, maka itu menjadi star untuk mengubah
hal yang gagal dan negative. Refleksi menurut saya memungkinkan saya untuk
mampu berpihak pada murid dan berkolaborasi dengan rekan sejawat.
Luarbiasa...
BalasHapus