REFLEKSI
MODUL 1.1 PROGRAM GURU PENGGERAK
By: Metodius Dismas, S. Fil
Ini adalah
refleksi pertama yang saya tuliskan ketika saya mulai dengan Diklat CGP
Angkatan 7. Setelah dinyatakan lulus wawancara dan simulasi mengajar maka saya
dinyatakan resmi menjadi Calon Guru Penggrak. Kegiatan pertama yang saya ikuti
adalah lokakarya bersama 71 rekan CGP Angkatan 7 Kabupaten Sikka. Kegiatan ini
berlangsung dengan spirit yang rasanya sungguh berbeda. Selain mengenal
rekan-rekan CGP juga saya mengenal istilah Pengajar Paraktik yang menjadi pembimbing
dalam setiap kegiatan. Setelah kegiatan lokakarya, rasanya ada yang berbeda
dari kegiatan ini, semacam hal baru dan luarbiasa yang belum pernah saya
dapatkan selama menjadi guru.
Selanjutnya dalam
minggu-mingu ini saya begelut dengan LMS. Di sana sudah tersedia rutinitas
pembelajarn harian yang mesti saya baca dan saya kerjakan sesuai dengan limit
waktu yang sudah diatur sedemikian rapi. Pelajaran pertama yang saya dapatkan
adalah Modul 1.1 tentang Refleksi Folosofis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Di sana
saya menemukan banyak pengetahuan baru tentang saya sebagai guru dan tentang
peserta didik dalam hubungan dengan sekolah, keluarga, masyarakat dan konteks
budaya. Saya harus menyebutnya sebagai pengetahuan baru, karena sejatinya 12
tahun saya menjadi guru tentunya tidak ada yang baru jika saya kompeten dalam
tugas dan profesi saya sebagai guru. Akan tetapi kebaruan ini harus
jujur diungkapkan karena memang dalam tugas saya sebagai guru hampir tidak
pernah membaca lagi tentang karya KHD,sang tokoh pendidikan Nasional. Pemikiran
filosofisnya dengan rumusan reflektif yang mendalam tentang pendidikan dengan
bahasa yang lugas dan tegas juga disertai dengan metafora yang menebalkan
pemahaman, KHD sepertinya datang tiba-tiba dan mengetuk pintu hati saya sambil
bergumam. ''...engkau.....
jadilah guru yang benar-benar mampu menuntun muridmu, camkan baik-baik tiga
semboyan yang kucetuskan, dan ingat selalu untuk memperhatikan kodrat alam dan
kodrat zaman dari anak didikmu, dan.... janganlah berpikir bahwa anak didikmu
lahir seperti kertas putih kosong......" . Sungguh sebuah
teguran yang dasyat dalam memaknai tugas dan profesi saya sebagai guru. Meski
ini hanya sebuah ilustrasi imajinatif tetapi saya memaknainya sebagai sebuah
interaksi simbolik. Meski maya tapi saya bereaksi untuk itu dalam refleksi.
Setelah membaca
modul 1.1. tentang Refleksi Folosofis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya
juga disuguhkan dengan pendalaman-pendalaman materi yang bersifat
reflektif. Selain berbagai pertanyaan-pertanyaan pemantik sebagai
refleksi, juga saya dituntut untuk melakukan implemetasi konsep KHD di
dalam kelas yang dibuktikan dengan video sebagai bentuk demontrasi kontekstual
pemikiran KHD. Untuk memperdalam pemahaman dan elaborasi mendalam tentang
pemikiran KHD saya juga bisa berdiskusi dengan rekan-rekan CGP , Pengajar
Praktik, juga dengan ibu fasilitator yang ramahnya luarbiasa, baik diskusi
dalam rung diskusi non visual maupun dalam ruang visual melalui google meet
yang juga sudah tersedia akses linknya dalam LMS.
Lalu, pertanyaannya,
apa yang sesungguhnya saya dapatkan dapatkan dari modul 1.1 ini sehingga saya
berani menyebutnya sebagai sebuah kebaruan untuk
profesi saya sebagai guru? Pertama, Sebelum
membaca modul 1 yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas bahwa
Pengajaran dan pendidikan itu substansinya sama. Bahawa ketika saya mengajar di
dalam kelas itu juga sama halnya dengan saya mendidik siswa di dalam kelas.
Tetapi ternyata setelah saya membaca modul 1.1. kata Pendidikan dan Pengajaran
dimaknai secara bebrbeda. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi
ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin.
Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi
tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kedua, Pemahaman saya
sebelum mempelajari modul 1.1 ini adalah bahwa anak lahir seperti kertas
kosong. Guru memiliki tugas untuk mengisi kekosongan itu lewat pendidikan dan
pengajaran. Ternyata setelah membaca modul ini, menurut KHD anak bukan kertas
kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa. Kekuatan
sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih
samar-samar. Pendidikan bertujuan untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak
untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untuk
menjadi manusia seutuhnya. Maka yang bisa saya lakukan di dalam kelas adalah
menggali nilai-nilai kearifan lokal yang bisa menjadi pegangan utama bagi
anak-anak agar selain mengenal nilai budayanya, juga bisa menjadi tameng
terhadap perpaduan dengan nilai-nilai budaya lain yang bertentangan dengan
nilai-nilai kearifan lokal.
Sebagi
implementasi kontekstual pemikiran KHD, apa yang bisa saya buat? Proses
pembelajaran di kelas saya yang mencerminkan pemikiran KH Dewantara secara
konkret sesuai dengan konteks lokal sosial budaya di sekolah pertama-tama
adalah salim setiap
pagi kepada guru. Budaya “tabe” ketika
guru masuk kelas siswa memberikan ucapan selamat. Dalam kegiatan pembelajaran
terutama pada kegiatan inti, anak duduk dalam kelompok diskusi dan dalam
kelompok melaksanakan kulababong untuk
memperoleh informasi dan pengetahuan baru. Pada hari jumat pertama dalam bulan
kegiatan konkrit yang dilakukan dalam hubungan dengan pemikiran KHD yang
mengatakan bahwa Kekuatan sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan
kodrat anak yang masih samar-samar, maka di sekolah saya, siswa diminta
mengenakan pakaian adat sikka atau lio, atau pakaian adat lainnya sesuai dengan
lokus kelahiran siswa. Tampaknya, implementasi kontekstual ini dirasa masih
sederhana. tetapi hemat saya, meski sederhana tetapi ada implementasi. Dalam
waktu, akan bergerak selangkah demi selangkah dalam mewujudkan pemikiran KHD.
Inilah sebuah
refleksi. Melihat ke dalam diri saya dan tentu bukan kepada oranglain. Sebagai
sebuah refleksi, saya merasa bahwa saya sebetulnya belum benar-benar menerapkan
keseluruhan pemikiran KHD di sekolah saya. Hal ini menyata dalam proses
pembelajaran dimana saya kadang-kadang menerapkan pembelajaran klasikal dan
menganggap satu metode berlaku untuk semua siswa. Padahal menurut KHD
nilai-nilai kemanusian dijunjung tinggi sesuai keunikannya masing-masing. Hal
ini menjadi catatan kritis bagai saya sebagi guru. Sebagai ekspektasi
setelah mengelaborasi modul 1.1 ini yakni agar saya benar-benar menjalankan
tugas saya sebagai guru yang mampu melaksanakan semboyan pendidikan: ing ngarso sung tulodo, ing madya
mangun karso, tut wuri handayani yang menjadi jiwa dari
pendidikan nasional dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian sesuai
keunikan masing-masing siswa sehingga pendidikan harus benar-benar memerdekakan
siswa. Selain itu harapannnya juga agar anak-anak saya memiliki motivasi dari
dalam diri untuk belajar, memiliki kemerdekan dan kebebasan dalam belajar, dan
melihat bahwa mereka benar-benar merasa nyaman dan merasa di hargai sesuai
keunikannya masing-masing.
Terimakasih Ki
Hadjar Dewantara untuk filosofimu yang brilian. Berjanji untuk berusaha
menebalkannya dalam laku saya sebagai guru.
Salam dan Bahagia
Komentar
Posting Komentar